- Cetak Generasi Tangguh, Sumenep Gelar Kejuaraan Armwrestling Pelajar
- Ketua DPD GMNI Jatim Soroti Prioritas, Pendidikan dan Kesehatan Gratis Didahulukan
- Hj. Toyyibah Tegaskan Komitmen Pelayanan Saat Pemberangkatan Umroh
- BPRS Bhakti Sumekar Ajak Warga Bijak Kelola THR Agar Tidak Habis Seketika
- Dies Natalis GMNI ke-72, Hairil Fajar: Perkuat Semangat Marhaenisme di Era Modern
- Kemenag Prediksi Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret, Hilal Belum Memenuhi Syarat
- Jelang Idul Fitri, Rumah Kebangsaan Jatim dan Polda Jatim Berbagi untuk Mahasiswa
- Bersama PAC PDI-P Guluk-Guluk, H. Abd Rahman Santuni Anak Yatim
- Ramadhan Peduli Warnai Kebersamaan Warga Pinggir Papas
- Peduli PKL di Bulan Ramadhan, Sulahuddin Salurkan Sembako dan Bukber Bersama PAC Lenteng
Memudarnya Api Idealisme Mahasiswa: Antara Tuntutan Realita dan Krisis Peran

Keterangan Gambar : Tijanuzaman (Penulis) Kader PMII UNIBA Madura
Sumenep, Angkasatunews.com — Mahasiswa selama ini dikenal sebagai agen perubahan dan penjaga nurani masyarakat. Namun, belakangan ini, semangat idealisme yang dulu begitu menyala tampak mulai meredup.
Gejala ini terlihat dari menurunnya partisipasi mahasiswa dalam isu-isu sosial, politik, maupun lingkungan. Banyak yang kini lebih fokus mengejar prestise pribadi, karier instan, atau sekadar kelulusan cepat, ketimbang memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Baca Lainnya :
- PMII Sebagai Manuver Di Era 5.00
- Skandal Kredit Macet Bank Jatim Sumenep, PAK-S: Elit Politik Dan Pengusaha Lokal Diduga Terlibat0
- Hari Ini, Kejati Jawa Timur Periksa 100 Orang Terkait BSPS Sumenep0
- Dulu Mendukung, Kini Menyesal: AMS Gelar Demonstrasi 100 Hari Kinerja Fauzi-Imam0
- Dari Gong Keramaian: Manding Distrik Festifal 2025 Resmi Dibuka0
Fenomena ini tentu tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial ekonomi yang makin menekan. Mahalnya biaya pendidikan, sulitnya mencari pekerjaan, dan tekanan dari keluarga untuk "cepat sukses" menjadikan mahasiswa lebih pragmatis.
Di sisi lain, organisasi kemahasiswaan yang dulunya menjadi wadah perjuangan kini kerap terjebak dalam politik internal, formalitas, atau bahkan kompromi dengan kekuasaan.
Namun, apakah ini berarti idealisme telah mati? Tidak sepenuhnya. Masih ada segelintir mahasiswa yang tetap kritis dan bergerak, hanya saja mereka tak lagi jadi arus utama.
Tantangannya kini adalah bagaimana membangkitkan kembali kesadaran kolektif mahasiswa, bahwa peran mereka bukan sekadar pencari ijazah, tetapi penyangga masa depan bangsa.
Jika idealisme terus ditinggalkan, maka kita kehilangan generasi penanya—generasi yang berani melawan arus ketika keadaan tidak adil. Maka, perlu ada ruang, dukungan, dan keteladanan untuk menghidupkan kembali nyala api itu di hati mahasiswa. Sebab tanpa idealisme, mahasiswa kehilangan makna sejatinya.
Penulis: Tijanuzaman (Kader PMII UNIBA Madura)










