- Dari 4,5 Miliar Penerima MBG, Sebanyak 28 Ribu Dilaporkan Alami Keracunan
- Dipimpin Naghfir, Majelis Rotibul Haddad Sambung Sanad ke Ponpes Sukorejo
- Proyek Gudang Bawang Merah DKPP Sumenep Rp1 Miliar Menuai Sorotan Publik
- Momentum HPN, Kepala DKPP Sumenep Tekankan Peran Pers
- Momentum HPN, Direktur BPRS Sumenep Ungkap Pentingnya Peran Pers
- HPN 2026, Direktur RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep Tekankan Peran Strategis Pers
- Hadiri RS BHC Run 2026, MH Said Abdullah Tegaskan Komitmen Dukung Kesehatan Publik
- DKPP Sumenep Dorong Konsumsi Pangan Lokal demi Gizi Masyarakat
- Peringati Hari Gizi Nasional, RSUD Sumenep Ingatkan Pentingnya Makan Sehat
- Aktivitas Galian C Dekat Asta Tinggi Tuai Sorotan Paguyuban Potra-Potre Madura: Kesakralan Rusak!
Memudarnya Api Idealisme Mahasiswa: Antara Tuntutan Realita dan Krisis Peran

Keterangan Gambar : Tijanuzaman (Penulis) Kader PMII UNIBA Madura
Sumenep, Angkasatunews.com — Mahasiswa selama ini dikenal sebagai agen perubahan dan penjaga nurani masyarakat. Namun, belakangan ini, semangat idealisme yang dulu begitu menyala tampak mulai meredup.
Gejala ini terlihat dari menurunnya partisipasi mahasiswa dalam isu-isu sosial, politik, maupun lingkungan. Banyak yang kini lebih fokus mengejar prestise pribadi, karier instan, atau sekadar kelulusan cepat, ketimbang memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Baca Lainnya :
- PMII Sebagai Manuver Di Era 5.00
- Skandal Kredit Macet Bank Jatim Sumenep, PAK-S: Elit Politik Dan Pengusaha Lokal Diduga Terlibat0
- Hari Ini, Kejati Jawa Timur Periksa 100 Orang Terkait BSPS Sumenep0
- Dulu Mendukung, Kini Menyesal: AMS Gelar Demonstrasi 100 Hari Kinerja Fauzi-Imam0
- Dari Gong Keramaian: Manding Distrik Festifal 2025 Resmi Dibuka0
Fenomena ini tentu tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial ekonomi yang makin menekan. Mahalnya biaya pendidikan, sulitnya mencari pekerjaan, dan tekanan dari keluarga untuk "cepat sukses" menjadikan mahasiswa lebih pragmatis.
Di sisi lain, organisasi kemahasiswaan yang dulunya menjadi wadah perjuangan kini kerap terjebak dalam politik internal, formalitas, atau bahkan kompromi dengan kekuasaan.
Namun, apakah ini berarti idealisme telah mati? Tidak sepenuhnya. Masih ada segelintir mahasiswa yang tetap kritis dan bergerak, hanya saja mereka tak lagi jadi arus utama.
Tantangannya kini adalah bagaimana membangkitkan kembali kesadaran kolektif mahasiswa, bahwa peran mereka bukan sekadar pencari ijazah, tetapi penyangga masa depan bangsa.
Jika idealisme terus ditinggalkan, maka kita kehilangan generasi penanya—generasi yang berani melawan arus ketika keadaan tidak adil. Maka, perlu ada ruang, dukungan, dan keteladanan untuk menghidupkan kembali nyala api itu di hati mahasiswa. Sebab tanpa idealisme, mahasiswa kehilangan makna sejatinya.
Penulis: Tijanuzaman (Kader PMII UNIBA Madura)










