- MBG Diduga Basi Ditolak Sekolah, Korwil SPPG Sumenep Pilih Diam
- MBG Ditolak Sekolah, SDN Lebeng Barat II Khawatirkan Kesehatan Siswa
- Antara Fakta dan Sensasi, Racikan Narasi di Dapur MBG
- RSUD Sumenep Buka Rekrutmen Pegawai BLUD Non-ASN 2026, Gratis Tanpa Pungutan
- Cetak Generasi Tangguh, Sumenep Gelar Kejuaraan Armwrestling Pelajar
- Ketua DPD GMNI Jatim Soroti Prioritas, Pendidikan dan Kesehatan Gratis Didahulukan
- Hj. Toyyibah Tegaskan Komitmen Pelayanan Saat Pemberangkatan Umroh
- BPRS Bhakti Sumekar Ajak Warga Bijak Kelola THR Agar Tidak Habis Seketika
- Dies Natalis GMNI ke-72, Hairil Fajar: Perkuat Semangat Marhaenisme di Era Modern
- Kemenag Prediksi Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret, Hilal Belum Memenuhi Syarat
MBG Ditolak Sekolah, SDN Lebeng Barat II Khawatirkan Kesehatan Siswa

Sumenep - SDN Lebeng Barat II menolak distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima pada Kamis (16/4/2026). Penolakan dilakukan setelah pihak sekolah menilai makanan yang dikirim tidak layak konsumsi karena diduga dalam kondisi basi dan berbau anyir.
Keputusan tersebut diambil melalui kesepakatan seluruh guru, yang khawatir makanan tersebut dapat membahayakan kesehatan siswa jika tetap dibagikan.
Kepala SDN Lebeng Barat II dalam keterangannya menyampaikan bahwa pihak sekolah memilih mengembalikan makanan MBG pada hari itu.
Baca Lainnya :
- Antara Fakta dan Sensasi, Racikan Narasi di Dapur MBG0
- RSUD Sumenep Buka Rekrutmen Pegawai BLUD Non-ASN 2026, Gratis Tanpa Pungutan0
- Cetak Generasi Tangguh, Sumenep Gelar Kejuaraan Armwrestling Pelajar0
- Ketua DPD GMNI Jatim Soroti Prioritas, Pendidikan dan Kesehatan Gratis Didahulukan0
- Hj. Toyyibah Tegaskan Komitmen Pelayanan Saat Pemberangkatan Umroh0
“Assalamu’alaikum, saya Kepala Sekolah SDN Lebeng Barat II akan mengembalikan MBG hari ini, tanggal 16 April 2026. Dikarenakan semua nuggetnya basi/bau anyir. Semua guru sepakat tidak akan memberikan MBG ini, takut siswa sakit perut. Mohon tindak lanjutnya dari kepala dapur MBG,” tulisnya dalam pesan di salah satu grup WhatsApp.
Penolakan tersebut juga mendapat dukungan dari wali murid. Mereka menilai makanan yang didistribusikan tidak layak dikonsumsi dan berpotensi menimbulkan keluhan jika tetap diberikan kepada siswa.
Informasi internal menyebutkan, langkah penolakan dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian pihak sekolah untuk menghindari risiko kesehatan serta komplain dari orang tua siswa.
“Lebih sayang kepada siswa daripada nanti wali murid banyak yang komplain ke sekolah,” ungkap salah satu pesan dalam grup tersebut.
Sementara itu, Kepala SPPG Lebeng Timur, Nur Kholis, membantah bahwa makanan dalam kondisi basi. Ia menyebut aroma yang dikeluhkan kemungkinan berasal dari campuran bumbu.
“Terkait menu, sebenarnya bukan bau basi, tapi aroma kecap asin dicampur dengan ayam. Mungkin kurang enak saja bumbunya. Untuk masalah keamanan, itu aman dan tidak akan menyebabkan keracunan,” ujarnya.
Nur Kholis menambahkan, sejauh ini hanya dua sekolah yang menyampaikan keluhan terkait menu tersebut. Pihaknya juga telah mendatangi sekolah untuk memberikan penjelasan terkait cara penyajian makanan.
“Kami sudah datang ke sekolah untuk konfirmasi. Dijelaskan juga cara makannya, karena kalau tidak dicampur sayur mungkin kurang pas. Alhamdulillah di sekolah yang kami datangi, akhirnya makanan bisa dikonsumsi,” pungkasnya.
Meski demikian, pihak SDN Lebeng Barat II tetap pada keputusan awal untuk tidak menyalurkan makanan kepada siswa sebagai langkah antisipasi demi menjaga kesehatan peserta didik. (Adm)









