- Cetak Generasi Tangguh, Sumenep Gelar Kejuaraan Armwrestling Pelajar
- Ketua DPD GMNI Jatim Soroti Prioritas, Pendidikan dan Kesehatan Gratis Didahulukan
- Hj. Toyyibah Tegaskan Komitmen Pelayanan Saat Pemberangkatan Umroh
- BPRS Bhakti Sumekar Ajak Warga Bijak Kelola THR Agar Tidak Habis Seketika
- Dies Natalis GMNI ke-72, Hairil Fajar: Perkuat Semangat Marhaenisme di Era Modern
- Kemenag Prediksi Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret, Hilal Belum Memenuhi Syarat
- Jelang Idul Fitri, Rumah Kebangsaan Jatim dan Polda Jatim Berbagi untuk Mahasiswa
- Bersama PAC PDI-P Guluk-Guluk, H. Abd Rahman Santuni Anak Yatim
- Ramadhan Peduli Warnai Kebersamaan Warga Pinggir Papas
- Peduli PKL di Bulan Ramadhan, Sulahuddin Salurkan Sembako dan Bukber Bersama PAC Lenteng
Kades Sapeken Pamer Jurus Tampar Kilat, Warga Malah Kaget Bukan Kagum

SUMENEP , Angkasatunews.com - Kabupaten Sumenep kembali heboh. Bukan karena prestasi atau pembangunan, melainkan karena atraksi “jurus kilat” ala Kepala Desa Sapeken, Joni, yang diduga bertemu dengan seorang perempuan muda bernama Nadia (21) pada Rabu (13/8/2025) sore.
Kejadian tersebut berlangsung di Jalan Baru Sapeken, bukan di arena pencak silat atau latihan bela diri. Korban mengaku baru pulang dari kota, membeli cilok, lalu disapa Joni. Namun bukan Berbagai “selamat datang”, melainkan “selamat ditampar”.
Baca Lainnya :
- UE Desak Israel Batalkan Rencana Pembangunan Permukiman di Area E1, Apa itu Area E1? 0
- Ketua GPPS Tuntut Bupati Sumenep Mutasi Hingga Pecat OPD Yang Tidak Kerja Prima0
- Kanselir Jerman Kritik Keras Israel, Sikap Berlin Mulai Bergeser? 0
“Katanya aku tidak boleh lagi ke Sapeken, besok disuruh pulang ke Kangean. Saya tanya kenyamanan, malah kena tampar kanan-kiri,” ujar Nadia, yang tentu saja lebih kaget daripada cilok di tangan.
Tak cukup sekali, Joni diduga mengeluarkan jurus “tampar ganda” sambil melontarkan tantangan: “Bilang sama kalimat orang tua dan keluargamu, aku tidak takut.” Tampaknya sedang casting film laga murah meriah.
Kapolsek Sapeken, AKP Taufik, izinkan laporan itu. Benar mas, ada laporan dugaan ditandatangani.Nomornya resmi, bukan nomor undian berhadiah, ujarnya.
Kasus ini langsung menyedot perhatian publik. Bukan hanya soal memahaminya, tapi karena dilakukan oleh seorang kepala desa, jabatan yang seharusnya menjadi teladan, bukan tontonan.
Hingga berita ini diturunkan, Joni belum memberikan klarifikasi. Diduga masih sibuk memikirkan jurus pembelaan apa yang akan dipakai di depan hukum.
Masyarakat pun berharap aparat penegak hukum segera mengusut kasus ini. Sebab kalau dibiarkan, jangan-jangan nanti jurus “tampar kilat” dijadikan program unggulan desa.










