- Grafiti Bernada Protes Ekonomi Muncul di Malang, Sentil Mahalanya Harga Kebutuhan
- Khidmat untuk Umat, Program Rumah Yatim Ansor Lenteng Dipuji Kemenag Sumenep
- Skandal MBG Menggelinding, LSM Bidik Ingatkan Tak Ada Pejabat yang Kebal Hukum
- LSM Bidik Minta Kejagung dan KPK Turun Tangan, Periksa Dugaan Jual Beli Titik MBG di Madura
- GMNI Jatim : Pelemahan Rupiah Pertegas Pentingnya Kembali ke Jalan Berdikari Bung Karno
- Sempat Mengaku Tak Tahu, Pengelola SPPG Aeng Dake 2 Kini Sebut Keluhan Limbah Bohong
- Warga Pertanyakan Pengelolaan Limbah SPPG Al-Azhar Aeng Dake yang Menimbulkan Bau
- Merawat Api Perjuangan Sang Proklamator, Lenteng Bangun Sinergi Lintas Elemen
- Ketua PAC Lenteng : Semangat Pancasila Harus Hidup di Hati Milenial dan Gen Z
- Hari Lahir Pancasila, Direktur RSUD Sumenep Ajak Tenaga Kesehatan Perkuat Nilai Kemanusiaan
Grafiti Bernada Protes Ekonomi Muncul di Malang, Sentil Mahalanya Harga Kebutuhan

Malang - Sejumlah tembok di berbagai sudut Kota Malang, Jawa Timur, mendadak dipenuhi grafiti bertuliskan "Turunkan Harga Kami Lapar Cok". Coretan bernada protes itu menyita perhatian publik karena muncul di tengah meningkatnya keluhan masyarakat terkait mahalnya harga kebutuhan pokok dan tingginya biaya hidup.
Pantauan di lapangan menunjukkan grafiti tersebut tersebar di sejumlah titik strategis, mulai dari kawasan Purwantoro, Tulusrejo, Tungguwulung, Cengger Ayam, Jalan Industri Barat Purwantoro hingga wilayah Kecamatan Klojen. Tulisan berukuran besar itu terpampang di dinding-dinding yang mudah terlihat pengguna jalan, sehingga cepat menjadi perbincangan masyarakat.
Kemunculan grafiti tersebut dinilai bukan sekadar aksi vandalisme biasa. Banyak warga menilai pesan yang tertulis merupakan cerminan keresahan yang tengah dirasakan masyarakat bawah akibat tekanan ekonomi yang semakin berat.
Baca Lainnya :
- LSM Bidik Minta Kejagung dan KPK Turun Tangan, Periksa Dugaan Jual Beli Titik MBG di Madura0
- Hendra Prayogi: Negara Salah Prioritas, Pendidikan Gratis Harus Didahulukan0
- Aktivitas Galian C Dekat Asta Tinggi Tuai Sorotan Paguyuban Potra-Potre Madura: Kesakralan Rusak! 0
- PMII UNIBA Madura Tantang Disbudporapar Tindak Tegas News Year Party Tak Berizin0
- DPD GMNI Jatim Buka Rapimda di Ngawi, Tekankan Regenerasi Kader dan Penguatan Nasionalisme0
Dalam beberapa waktu terakhir, harga sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, cabai, minyak goreng, telur, hingga bahan pangan lainnya terus menjadi perhatian masyarakat. Kondisi tersebut turut diperparah oleh meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang yang berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.
Seorang pedagang kaki lima di kawasan Pasar Besar Malang mengaku pendapatannya tidak lagi sebanding dengan laju kenaikan kebutuhan sehari-hari.
"Kami kerja setiap hari, tapi uang belanja rasanya makin tidak cukup. Harga kebutuhan naik terus, biaya transportasi juga naik. Tulisan di tembok itu mungkin mewakili perasaan banyak orang," ujarnya, Senin (15/6/2026).
Bagi sebagian warga, grafiti tersebut menjadi bentuk kritik sosial yang lahir dari ruang publik ketika keluhan masyarakat dinilai belum sepenuhnya mendapatkan perhatian. Pesan yang singkat, lugas, dan menggunakan bahasa lokal membuatnya mudah dipahami serta cepat menyebar di media sosial.
Penggunaan kata "cok", istilah yang akrab dalam percakapan masyarakat Jawa Timur, semakin mempertegas kesan bahwa pesan itu berasal dari kalangan akar rumput dan mencerminkan ungkapan spontan rakyat kecil yang merasakan langsung dampak kenaikan biaya hidup.
Aktivis mahasiswa Malang, Rizal, menilai fenomena tersebut merupakan sinyal yang tidak boleh diabaikan.
"Grafiti ini menunjukkan keresahan masyarakat yang mulai mencari berbagai cara untuk menyuarakan kondisi yang mereka alami. Ketika pesan seperti ini muncul serentak di ruang publik, itu menandakan ada persoalan yang dirasakan bersama oleh banyak orang," katanya.
Menurut Rizal, ruang publik sering kali menjadi medium alternatif bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan aspirasi ketika mereka merasa suara mereka tidak cukup terdengar melalui jalur formal.
Hingga berita ini ditulis, belum diketahui siapa pihak yang bertanggung jawab atas pembuatan grafiti tersebut. Aparat setempat dilaporkan mulai membersihkan beberapa tulisan yang muncul di sejumlah lokasi.
Meski sebagian grafiti telah dihapus, pesan yang ditinggalkannya telanjur menjadi perhatian publik. Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat, kemunculan tulisan "Turunkan Harga Kami Lapar Cok" kini tidak hanya menjadi coretan di dinding kota, melainkan simbol kegelisahan sosial yang sedang mencari ruang untuk didengar.









