- Cetak Generasi Tangguh, Sumenep Gelar Kejuaraan Armwrestling Pelajar
- Ketua DPD GMNI Jatim Soroti Prioritas, Pendidikan dan Kesehatan Gratis Didahulukan
- Hj. Toyyibah Tegaskan Komitmen Pelayanan Saat Pemberangkatan Umroh
- BPRS Bhakti Sumekar Ajak Warga Bijak Kelola THR Agar Tidak Habis Seketika
- Dies Natalis GMNI ke-72, Hairil Fajar: Perkuat Semangat Marhaenisme di Era Modern
- Kemenag Prediksi Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret, Hilal Belum Memenuhi Syarat
- Jelang Idul Fitri, Rumah Kebangsaan Jatim dan Polda Jatim Berbagi untuk Mahasiswa
- Bersama PAC PDI-P Guluk-Guluk, H. Abd Rahman Santuni Anak Yatim
- Ramadhan Peduli Warnai Kebersamaan Warga Pinggir Papas
- Peduli PKL di Bulan Ramadhan, Sulahuddin Salurkan Sembako dan Bukber Bersama PAC Lenteng
Kades Sapeken Dituding Aniaya Perempuan, LSM BIDIK: Jangan Karena Jabatan, Hukum Jadi Mandul

SUMENEP – Kepala Desa Sapeken, Joni Junaidi, kembali bikin heboh. Bukan karena program pembangunan, melainkan karena dugaan “jurus tangan kilat” yang mendarat ke tubuh seorang perempuan.
Kasus ini langsung mengundang reaksi keras dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Barisan Investigasi dan Informasi Keadilan (BIDIK) Sumenep. Ketua Umum BIDIK, Didik Haryanto, mendesak aparat penegak hukum agar tidak ragu menindak, meski pelaku diduga seorang pejabat desa.
“Dengan alasan apapun, kekerasan yang dilakukan Joni sebagai kades tidak dibenarkan,” tegas Didik.
Baca Lainnya :
- Kasus Dugaan Penganiayaan Warnai Sapeken, Kades Jadi Terlapor0
- Abolisi dan Amnesti untuk Tom Lembong dan Hasto, Apa Bedanya dan Apa Dasar Hukumnya?0
- Merdeka ala Agus! Cek Promo Gokil BarokahNet Sekarang!0
- Polda Jatim Selidiki Dugaan Pemalsuan SHM di Pantai Gersik Putih, Gapura, Sumenep0
- Rencana Akuisisi Gagal, Pendiri Windsurf Justru Bergabung ke Google DeepMind0
Didik mengingatkan, Indonesia bukan kerajaan yang kepala desa bisa seenaknya memperlakukan rakyat. “Bayangkan kalau istri atau saudara kita dipukul orang, pasti kita marah. Apalagi ini bukan kali pertama,” ujarnya dengan nada kesal.
Menurutnya, seorang kades seharusnya bijak mengurus rakyat, bukan justru menguji ketahanan fisik warganya. “Kalau semua masalah diselesaikan dengan kekerasan, berarti kades bukan pemimpin, tapi jagoan jalanan. Apalagi korbannya perempuan, ini jelas kelewatan,” sindirnya.
BIDIK pun menuntut Kapolsek Sapeken Iptu Taufik Rahman dan Kapolres Sumenep segera mengusut kasus ini hingga tuntas. “Jangan sampai hukum hanya garang untuk rakyat kecil, tapi jinak ketika berhadapan dengan pejabat. Hukum itu harus tegas, bukan pilih-pilih,” pungkas Didik.










