- Dari 4,5 Miliar Penerima MBG, Sebanyak 28 Ribu Dilaporkan Alami Keracunan
- Dipimpin Naghfir, Majelis Rotibul Haddad Sambung Sanad ke Ponpes Sukorejo
- Proyek Gudang Bawang Merah DKPP Sumenep Rp1 Miliar Menuai Sorotan Publik
- Momentum HPN, Kepala DKPP Sumenep Tekankan Peran Pers
- Momentum HPN, Direktur BPRS Sumenep Ungkap Pentingnya Peran Pers
- HPN 2026, Direktur RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep Tekankan Peran Strategis Pers
- Hadiri RS BHC Run 2026, MH Said Abdullah Tegaskan Komitmen Dukung Kesehatan Publik
- DKPP Sumenep Dorong Konsumsi Pangan Lokal demi Gizi Masyarakat
- Peringati Hari Gizi Nasional, RSUD Sumenep Ingatkan Pentingnya Makan Sehat
- Aktivitas Galian C Dekat Asta Tinggi Tuai Sorotan Paguyuban Potra-Potre Madura: Kesakralan Rusak!
GMNI: Menyongsong 80 Tahun Kemerdekaan dengan Nafas Trisakti

Peringatan HUT ke-80 RI pada Minggu (17/8/2025) menjadi momen refleksi, bukan sekadar seremoni. Ketua DPD GMNI Jawa Timur, Hendra Prayogi, menyebut delapan dekade kemerdekaan sebagai kesempatan meninjau pencapaian bangsa sekaligus merumuskan arah masa depan.
“Semangat kemerdekaan harus terus relevan bagi lintas generasi. Cita-cita proklamasi tidak boleh berhenti sebagai simbol, melainkan pedoman nyata pembangunan,” ujarnya.
Baca Lainnya :
- Heboh Bendera One Pice Berkibar Di Bulan Kemerdekaan, Pemerintah Peringatkan Soal Ancaman Pidana0
- Megawati Merasa Prihatin Kondisi KPK: Presiden Harus Turun Tangan0
- Tom Lembong Nilai Abolisi Sebagai Pemulihan Nama Baik0
- Hasto Kristiyanto Tinggalkan Rutan KPK, Siap Lapor ke Megawati0
- Presiden Prabowo Tetapkan 18 Agustus 2025 sebagai Hari Libur Bersama Usai HUT ke-80 RI0
Menurut Hendra, GMNI yang sejak 1954 berdiri di atas Marhaenisme Bung Karno—selalu terikat dengan denyut sejarah bangsa. Kedekatan antara HUT RI ke-80 dan Dies Natalis GMNI ke-70 disebutnya sebagai simbol keterjalinan itu.
Trisakti Bung Karno, selanjutnya, tetap menjadi kompas perjuangan: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. GMNI, kata Hendra, memaknai Trisakti bukan sekadar slogan, melainkan panduan praktis mengawali kebijakan publik, menggerakkan aksi sosial, dan menjaga budaya nasional.
Program nyata pun digulirkan, mulai dari Kader Bina Desa, Koperasi Desa Merah Putih, hingga dukungan UMKM dan pagelaran seni rakyat. “Budaya bukan sekedar warisan, ia fondasi perjuangan,” tegasnya.
Di era digital, Hendra menilai tantangan bangsa tidak lebih berupa kolonialisme bersenjata, melainkan arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan ancaman ideologi. “GMNI harus beradaptasi, tetap lantang menyuarakan rakyat, dan menjaga relevansi Marhaenisme,” tutupnya. (Adm )










